KONEKSI ANTAR MATERI – MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI
KONEKSI ANTAR
MATERI – MODUL 2.1
PEMBELAJARAN
BERDEFERENSIASI
Kurnianto
CPG Angkatan 4 Kab. Sragen
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada murid untuk
meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil
belajar murid tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada
produk pembelajaran, tetapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Metode
ini dapat diterapkan hampir pada semua mata pelajaran.
Saat menyampaikan
pembelajaran mata pelajaran kejuruan dengan pendekatan pembelajaran
berdiferensiasi, saya menugaskan murid untuk belajar dengan menggunakan peralatan
yang ada untuk kegiatan praktik, dengan berbagai pilihan alat. Tugas ini secara tidak langsung dapat
mengarahkan murid yang berpotensi dan belajar sesuai dengan minatnya.
Pembelajaran
berdiferensiasi berfokus pada tiga hal utama. Apa saja?
Diferensiasi konten/materi
Jika fokus pada
konten, maka murid punya kebebasan untuk menentukan potensi/fasilitas belajar sekitarnya
untuk di dijadikan sebagai sumber belajar. Guru bisa memberikan lembar kerja
(LK)/ jobsheet berisi tabel panduan dan contoh langkah-langkah yang harus
dilakukan murid ketika ingin melaksanakan proses unjuk kerja.
Diferensiasi proses
Guru dapat
memberikan murid kebebasan untuk memilih pekerjaan yang dikuasainya, bisa
dimulai dari yang termudaj ke yang sulit saat praktik unjuk kerja. Murid dapat melaksanakan
proses perbaikan dan perawatan tetap sesuai
SOP yang berlaku. Setelah itu murid harus menulis hasil kerja dan pengamatan
selanjutnya membuat laporan unjuk kerja.
Diferensiasi produk
Diferensiasi
produk akan tampak dari produk yang dihasilkan murid. Produk ini beragam hasilnya
sesuai proses yang dilakukan murid, apakah sesuai dengan SOP atau hanya sekedar
selesai. Guru dapat memberikan umpan balik atas produk unjuk kerja murid, atas
apa yang telah dikerjakannya, sebagai bagian dari penilaian unjuk kerja.
Cara pertama untuk
mencari tahu karakteristik masing-masing murid adalah dengan mengamati gaya
belajar mereka. Misalnya ada murid yang lebih tertarik pada hal yang sifatnya
visual, maka cara pemberian materi dan produk hasil belajar pun diharapkan akan
dalam bentuk visual. Cara lainnya bisa dengan melihat dan mengamati tugas-tugas
yang sudah dikerjakan murid. Guru dapat berdiskusi dengan guru mata pelajaran
lain tentang kemampuan murid tersebut ketika menerima materi pelajaran.
Selain itu, guru
juga dapat membuat pertanyaan pemantik untuk mengetahui minat dan karakteristik
murid. Misalnya pertanyaan tentang kebiasaan belajar murid, ada murid yang
lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada yang lebih senang dalam
kondisi sepi, atau mungkin dan ada yang bisa belajar sambil menonton televisi,
dan masih banyak lagi.
Tantangan pembelajaran berdiferensisasi
Namun menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat
menyiapkan beberapa materi dan instrumen penilaian sekaligus.
Misalnya saya
menggunakan diferensiasi konten/materi, berarti saya harus menyiapkan materi
lebih dari satu. Sama halnya dengan diferensiasi proses dan produk, berarti
harus ada lebih dari satu media pembelajaran dan alat penilaian.
Tapi sebenarnya
pembelajaran berdiferensiasi dapat menguntungkan anak untuk memaksimalkan
potensi mereka, terlebih lagi untuk anak berkebutuhan khusus yang
pembelajarannya berbeda dengan murid lain.
Melalui
pembelajaran berdiferensiasi, sikap toleransi dapat muncul dengan pemberian
keleluasaan bagi murid untuk mengembangkan potensi. Guru tidak membatasi bahan dasar,
proses, dan produk yang dihasilkan murid. Namun, guru juga tidak membebaskan
semuanya sehingga pembelajaran terkesan merdeka. Guru tetap mengontrol
pembelajaran dengan memberikan isian LK yang sama bagi semua murid.
Seperti apa yang dikatakan Ki Hadjar
Dewantara bahwa serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam
tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran dan cara
mengukirnya. Seperti itu seharusnya seorang guru memilki pengetahuan yang
mendalam tentang seni mendidik, bedanya guru mengukir manusia yang memiliki
hidup lahir dan batin.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, pemetaan
kebutuhan merupakan langkah seorang guru mengetahui apa yang dibutuhkan siswa.
Dengan demikian dapat menerapkan seni mendidik yang tepat sesuai dengan apa
yang dibutuhkan siswa. Hal ini selaras dengan filosofi pendidikan menurut Ki
Hadjar Dewantara.
Pembelajaran berdiferensiasi juga sesuai
dengan nilai dan peran guru penggerak yakni berpihak pada murid dan mewujudkan
kepemimpinan murid selain itu untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi
budaya positif perlu diciptakan dalam lingkungan belajar sehingga suasana
belajar yang nyaman dan aman.
Comments
Post a Comment