SEPUTAR PEMBELAJARAN
SOSIAL-EMOSIONAL
Kurnianto
Dalam tahap
perkembangan anak di dunia pendidikan, ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan karena menjadi acuan untuk menilai sejauh mana kemajuan
perkembangan anak tersebut. Faktor – faktor yang penting tersebut adalah aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik. Konsep tentang kognitif, afektif, dan
psikomotorik ini juga dikenal dengan nama Taksonomi Bloom, yang dicetuskan oleh Benjamin Bloom.
Aspek
kognitif menjadi aspek utama dalam banyak kurikulum pendidikan dan menjadi
tolok ukur penilaian perkembangan anak. Kognitif yang berasal dari bahasa latin cognitio memiliki arti pengenalan, yang mengacu kepada
proses mengetahui maupun kepada pengetahuan itu sendiri. Ranah afeksi
adalah materi yang berdasarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan emosi
seperti penghargaan, nilai, perasaan, semangat, minat, dan sikap terhadap
sesuatu hal. Psikomotorik adalah domain yang meliputi perilaku gerakan
dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik seseorang.
Keterampilan yang akan berkembang jika sering dipraktekkan ini dapat diukur
berdasarkan jarak, kecepatan, kecepatan, teknik dan cara pelaksanaan.
Selanjutnya
menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan daya dan upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan
tubuh anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan anak yang
sesuai dengan dunianya. Hal tersebut menegaskan pembelajaran sosial dan
emosional yang berbasis kesadaran penuh merupakan upaya untuk menciptakan
ekosistem sekolah yang mendorong bertumbuhnya budi pekerti, selain intelektual
tentunya. Melalui pembelajaran sosial dan emosional ini, murid diajak untuk
menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami sejumlah pengalaman yang
dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif.
Terdapat
lima kompetensi kunci dalam pengembangan pembelajaran soial dan emosional
menurut Daniel Goleman (1995), yakni kesadaran diri (self awareness), manajemen
diri (self mangament), kesadaran sosial (social awareness), kemampuan berelasi
(relationship), dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab (responsible
decision-making). Semuanya sangat penting dalam pengembangan kemampuan
mengontrol diri, sejak mengidentifikasi masalah, menganalisi permasalahan,
mengevaluasi, merefleksi, dan tanggung jawab yang etis.
Jika melihat hal di atas, maka dapat dikatakan pembelajaran
sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif
oleh seluruh komunitas sekolah, yang memungkinkan anak dan orang dewasa di
sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif
mengenai aspek sosial dan emosional.
Ada
tiga hal yang menjadi ruang lingkup untuk setiap kompetensi pembelajaran sosial
dan emosional, yaitu: 1) kegiatan rutin yang merupakan kondisi di luar kegiatan
belajar mengajar secara akademik; 2) integrasi dalam pembelajaran, dan 3)
protokol, budaya atau peraturan sekolah yang sudah disepakati bersama. Semuanya
akan dipetakan ke dalam lima kompetensi pembelajaran sosial dan emosional,
yakni kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi, dan
pembuatan kepetusan yang bertanggung jawab.
Teknik Pembelajaran Sosial dan
Emosional
1.
Ruang Lingkup Rutin
Untuk
ruang lingkup Rutin, kompetensi sosial dan emosional Kesadaran diri –
pengenalan emosi, teknik yang dapat digunakan adalah 1) bernafas dengan
kesadaran penuh; 2) penjelasan tentang apa yang dilakukan guru, caranya adalah
dengan meminta murid untuk berhenti melakukan kegiatan apapun dan menarik nafas
dalam-dalam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan. Lakukan sebanyak 10
kali; 3) penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid. Tekniknya adalah
guru meminta murid merasakan pada tubuh, pikiran, dan perasaan mereka setelah
melakukan kegiatan tersebut. 4) penjelasan tentang tujuan. Tekniknya adalah
bernapas dalam-dalam meningkatkan suplai oksigen ke otak dan menstimulasi
sistem saraf parasimpatis, yang meningkatkan ketenangan.
Sementara
untuk kompetensi pengelolaan diri – mengelola emosi dan fokus, teknik yang
dapat dilaksanakan dengan 1) berorganisasi, 2) tentang apa yang dilakukan oleh
guru, tekninya adalah dengan meminta murid terlibat aktif dalam setiap kegiatan
ekstra di sekolah. 3) tentang apa yang dikatakan pada murid. Tekniknya adalah
murid mengikuti kegiatan di luar jam belajar sekolah formal dengan mengatur
informasi yang dia dapatkan dari kegiatan ekstra tersebut dan juga mengatur
waktu dalam kegiatan sehari-harinya. 3) tentang tujuan, murid akan lebih
terorganisir, produktif serta dapat mengoptimalkan waktu sehari-harinya dan
dapat menyaring informasi yang relevan dengan tujuan.
Di
sisi lain, kesadaran sosial – keterampilan berempati, tekniknya adalah dengan
melaksanakan kegiatan keagamaan; 2) penjelasan tentang apa yang dilakukan guru,
tekniknya meminta murid untuk mengumpulkan sumbangan sukarela untuk membantu
teman yang kurang mampu. 3) penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid,
tekniknya murid mengumpulkan sumbangan melalui pengurus kelas; 4) penjelasan
tentang tujuan adalah melatih dan menumbuhkembangkan kesadaran sosial (empati)
bagi warga sekolah.
Selanjutnya,
untuk kompetensi berhubungan sosial – daya lenting (resiliensi), teknik
yang dapat digunakan dengan Senyum, Salam, Sapa; 2) penjelasan tentang apa yang
dilakukan guru. Tekniknya, guru menunggu murid di depan gerbang sekolah dengan
mengucapkan salam, tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah; 3) tentang apa
yang dikatakan pada murid, guru menyapa murid dengan ucapan salam dengan ramah
dan sopan untuk menimbulkan budaya positif sekolah; 4) tentang tujuan, yakni
murid mampu menumbuhkan kemampuan hubungan sosial dengan semua warga sekolah.
Berikutnya,
kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, teknik yang dapat dilaksanakan
adalah: 1)menggunakan kerangka yang disebut POOCH –(Problem (Masalah), Options
(Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), dan Choices (Keputusan
yang diambil); 2) tentang apa yang dilakukan guru adalah membimbing,
mengarahkan dan membantu menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang
bertanggung jawab; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid adalah meniru dan
berlatih dalam menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung
jawab; 4)tentang tujuan, yakni memastikan bahwa keputusannya mengarah pada
tindakan yang meningkatkan kesehatan, melindungi keselamatan, mematuhi
undang-undang, menunjukkan rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain,
mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh orang dewasa.
2.
Ruang Lingkup Integrasi dalam Pembelajaran
Di
dalam ruang lingkup integrasi pembelajaran pada kompetesi kesadaran
diri-pengelolaan emosi, maka teknik yang dapat diambil: 1) identifikasi
Perasaan; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni membacakan sebuah cerita
yang perasaan tokohnya dideskripsikan dengan jelas dalam cerita tersebut,
contoh cerita tokoh Ki Hajr Dewantara; 3) tentang apa yang dikatakan pada
murid, yakni meminta mereka untuk menggambar ekspresi wajah tokoh cerita sesaat
setelah mendengarkan cerita tokoh Ki Hajar Dewantara; 4) tentang tujuan, yakni
untuk mengetahui perasaan siswa terhadap mata pelajaran Sejarah (IPS).
Kemudian,
pada kompetensi penelolaan diri – mengelola emosi dan fokus, maka tekni yang
diambil adalah: 1) refleksi diri; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni
memeriksa perasaan pada diri sendiri dan juga murid setiap setelah melakukan
pembelajaran; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid, yakni mereka memikirkan
atau menuliskan tentang perasaan yang telah dialami dan dirasakan secara fisik,
mental dan juga emosinya; 4) tentang tujuan, yakni murid dapat merasakan dan
merefleksi dirinya dalam setiap kegiatan sehingga murid dapat mengelola
emosinya Untuk setiap kegiatan hariannya serta focus dengan apa perubahan yang
terjadi pada dirinya.
Berikutnya,
pada kompetensi kesadaran sosial – keterampilan berempat, yakni 1) teknik
pembelajaran kooperatif; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni membuat
kelompok belajar siswa sesuai kebutuhannya; 3) tentang apa yang dikatakan pada
murid, yakni mereka saling membantu temannya dalam memahami pelajaran.
Ketika terdapat teman yang belum mengerti bisa dibantu dengan tutor sebaya; 4)
tentang tujuan, yakni murid dapat menumbuhkan rasa empati antara satu dengan
yang lainnya.
Berikutnya,
dalam kompetensi berhubungan sosial – daya lenting (resiliensi), maka teknik
yang dapat dilaksanakan, yakni kegiatan Role Play komunikasi aktif; 2) tentang
apa yang dilakukan guru, yakni guru mempersilakan setiap murid duduk
berpasangan, kemudian saling bergantian bercerita tentang pengalaman yang
menyenangkan; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid, yakni guru meminta
setiap murid mendengarkan cerita temannya dengan seksama dan penuh kesadaran
serta berusaha tidak memotong pembicaraan saat temannya saat bercerita; 4)
tentang tujuan, yakni murid mampu merefleksikan apa yang murid dengarkan dan
rasa saat bercerita maupun saat mendengarkan cerita temannya.
Selanjutnya, di dalam kompetensi
pengambilan keputusan yang bertanggung Jawab, tekni yang dapat dilakukan: 1)
identifikasi masalah; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni memberikan
beberapa contoh kasus dalam kegiatan sehari-hari terkait beberapa tindakan yang
baik atau kurang baik dan yang salah ataupun benar; 3) tentang apa yang
dikatakan pada murid, yakni mereka mengidentifikasi masalah yang di berikan
oleh guru, kemudian murid menentukan apakah kasus yang diberikan tersebut
baik/kurang baik/buruk ataupun benar/salah; 4) tentang tujuan, yakni murid
mampu mengidentifikasi masalah dengan mandiri dan menentukan pilihannya dengan
bertanggung jawab.
3.
Ruang Lingkup Protokol Budaya
Pada
ruang lingkup protokol budaya atau tata tertib, di dalam kompetensi kesadaran
diri-pengenalan emosi, tekni yang dapat dilaksanakan, yaitu: 1) doa bersama
sebelum masuk kelas; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni murid
dikumpulkan di lapangan dan berbaris rapi. lalu dipimpin berdo’a oleh satu
orang murid; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid, yakni doa yang dibacakan
oleh murid di depan, diikuti oleh seluruh murid yang berbaris di lapangan; 4)
tentang tujuan, yskni dengan membacakan do’a bersama akan memperkuat emosional
murid dalam menghadapi proses pembelajaran.
Kemudian,
di dalam kompetemsi pengelolaan diri-mengelola emosi dan fokus, tekni yang
dapat diambil: 1) pola makan berkesadaran; 2) tentang apa yang dilakukan guru,
yakni murid diminta Untuk menerapkan S-S-S yaitu Sit (duduk saat makan), slow
(makan secara perlahan) dan savor(menikmati makanan mereka); 3) tentang apa
yang dikatakan pada murid, yakni merefleksikan bersama mengenai perbedaan makan
dengan berkesadaran dan tidak; 4) tentang tujuan, yakni murid mampu
mengendalikan kesadaran diri dan menahan diri agar bias fokus ke tujuan yang
dibuat.
Berikutnya,
pada kompetensi kesadaran sosial – keterampilan berempati, teknik yang dapat
diambil, yakni 1) saling menghargai pendapat; 2) tentang apa yang dilakukan
guru: guru meminta murid saling menghargai pendapat dalam diskusi membuat
kesepakatan kelas; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid, yakni mereka
mendengarkan ketika ada teman yang berbicara dan tidak boleh mencemooh atau
menhina temannya; 3) tentang tujuan, yakni murid mampu menerapkan sikap saling
menghargai dan menghormati yang pada akhirnya kesadaran sosial berempati dapat
ditumbuhkan.
Sementara
dalam kompetensi berhubungan sosial – daya lenting (resiliensi), tekninya: 1)
Kolaborasi/Gotong Royong dalam kebersihan lingkungan; 2) tentang apa yang
dilakukan guru, yakni mengajak semua murid Untuk berkolaborasi dan bergotong
royong dalam menjaga lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah; 3) tentang apa
yang dikatakan pada murid, yakni melaksanakan kegiatan gotong royong secara
bersama-sama dalam membersihkan lingkungan kelas atau sekolah; 4) tentang
tujuan, yakni menumbuhkan murid untuk bersikap saling bekerja sama dalam
memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan kelas dan sekolah,
Selanjutnya,
kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, yakni 1) teknik
pendekatan personal; 2) tentang apa yang dilakukan guru, yakni jika terdapat
murid yang melanggar kesepakatan kelas, guru memanggil yang bersangkutan ke
ruang Bimbingan Konseling di luar jam pelajaran untuk melakukan pendekatan
personal; 3) tentang apa yang dikatakan pada murid, yakni setelah bertemu guru,
bertanya alasannya, dan ingin memahami serta memberikan solusi sebagai
konsekuensi. Guru juga bisa memberikan nasihat dan motivasi agar tidak
mengulangi lagi; 4) tentang tujuan, yakni membiasakan murid untuk menerima
konsekuensi dan bertanggung jawab dan membangun motivasi agar lebih baik lagi.
Sebagai
simpulan bahwa pembelajaran sosial dan emosional yang merupakan pembelajaran
yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah,
memungkinkan murid dan guru akan memperoleh dan menerapkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Sehingga hal
tersebut akan menciptakan kondisi yang harmonis, kondusif dan menjadi salah
satu alternatif solutif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpusat
pada murid dan memunculkan peran guru sebagai fasilitator yang memfasilitasi
potensi yang dimiliki muridnya.
Sumber:
·
http://disdikkbb.org/news/teknik-pembelajaran-sosial-emosional/
·
https://dosenpsikologi.com/kognitif-afektif-dan-psikomotorik
Comments
Post a Comment